PERHATIAN: Semua tulisan di laman / blog ini adalah hasil mengambil (copy) dari sumber-sumber yang layak dipertanggung jawabkan, baik media online maupun cetak, dengan harapan bisa digunakan untuk referensi dan tambahan ilmu yang bermanfaat. Terima kasih & harap maklum.

Rabu, 02 Maret 2011

Duku: Buah Unggulan Sumatera Selatan

(Lansium domesticum Corr)
Nama Lain: Langsat, Kokosan
Suku: Meliaceae

Latar Belakang
Duku (Lancium domesticum Corr) adalah jenis pohon buah unggulan Propinsi Sumatera Selatan, walaupun penyebaran alaminya di Indonesia dan Malaysia. Duku Palembang dengan nama Duku dari Sumatera Selatan terkenal di dunia perdagangan dan lebih baik Duku dari daerah lain karena rasanya sangat manis dan segar, kulitnya tipis. Prospek pengembangan Duku Palembang sangat cerah karena harganya cukup baik.

Pertelaan
Tanaman Duku berbatang pokok tinggi, dapat mencapai 15 – 20 m. Batang pokonya tegak, berdiameter 30 – 40 cm atau lebih. Daun tanaman duku berselang-seling, bersirip ganjil dengan 5 – 7 anak daun. Helaian daun bertangkai berbentuk elips, bulat panjang atau lonjong. Helaian daun 12 – 15 cm dan lebar daun 7 – 12,5 cm. Panjang tangkai daun 0,8 – 1,2 cm. Tandan bunga terletak pada cabang atau batang yang besar, menggantung berdiri sendiri atau dalam berkas 2 – 5, ukurannya kecil. Daun mahkota 4 – 5 helai, tidak pernah membuka lebar.

Bentuk buah bulat sampai lonjong , berbulu pendek. Kulit buah berwarna kuning muda keabu-abuan, tipis dan mengandung cairan seperti susu. Buah biasanya mempunyai dua biji yang rasanya pahit, masing-masing biji mempunyai dua embrio, terbungkus oleh lapisan yang transparan, berdaging dan melekat erat pada biji.

Ekologi
Tanaman Duku dapat tumbuh baik di dataran rendah sampai pada ketinggian 500 mdpl. Dengan tipe iklim basah sampai agak basah dengan curah hujan antara 1.500 – 2.500 mm pertahun dan merata sepanjang tahun.pH tanah baik adalah 6 – 7, tanaman Duku relatif lebih toleran terhadap keadaan tanah masam.

Musim Berbunga
Pada umumnya tanaman Duku mulai berbunga antara bulan September dan Oktober, buah dapat dipanen 6 bulan setelah kemudian, yakni bulan Maret-April.
***
Sumber: Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional, KLH RI (http://bk.menlh.go.id)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar