PERHATIAN: Semua tulisan di laman / blog ini adalah hasil mengambil (copy) dari sumber-sumber yang layak dipertanggung jawabkan, baik media online maupun cetak, dengan harapan bisa digunakan untuk referensi dan tambahan ilmu yang bermanfaat. Terima kasih & harap maklum.

Rabu, 30 Maret 2011

Enggang Gading: Panjang Ekornya Dua Kali Panjang Tubuhnya

(Rhinoplax vigil (J.R. Foster))
Nama lain: Anggang gudun, Anggang tokok, Tebang mentuak
Suku: Bucerotidae

Latar Belakang
Sebagai lambang suatu daerah, memang cocok sekali, karena bentuk dan ukuran Enggang Gading menunjukkan keagungan. Satwa ini dilindungi berdasar kan Undang-undang Perlindungan Binatang Liar 1931 No. 134.

Pertelaan
Di antara enggang atau burung rangkong, Enggang Gading adalah yang terbesar ukurannya. Kepalanya besar, paruhnya besar, tebal dan kokoh dengan "tanduk" yang menutup bagian dahinya. Warna "tanduk" ini merah pada bagian yang dekat dengan kepala, kuning gading pada sisinya. Ciri inilah yang memberikan namanya. Ekornya sangat panjang sampai dua kali panjang tubuhnya, Seluruhnya dapat mencapai sampai 1,5 m.

Habitat & Penyebaran
Burung ini tersebar di Kalimantan clan Sumatera sampai ketinggian 1.500 m di atas permukaan taut. Burung ini membutuhkan habitat yang berupa hutan dengan pepohonan yang tinggi yaitu di hutan tropika yang tidak terganggu, yang masih utuh. Pelestarian Enggang Gading menunjukkan pelestarian hutan tropika. Di dalam hutan ia selalu bertengger pada pohon-pohon tertinggi, sambil ka dang-kadang ia terbang ke pohon-pohon yang rendah untuk mendapatkan makanan

Makanan
Seperti kerabatnya, burung ini makan biji-bijian.

Perkembangbiakan
Perkembangbiakkannya belum banyak diketahui. Pada bulan Februari dan April didapatkan anakan dari burung ini.
***
Sumber: Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional, KLH RI (http://bk.menlh.go.id)


Selasa, 29 Maret 2011

Tengkawang Tungkul: Dikenal dengan Sebutan Meranti Merah

(Shorea stenoptera Burck)
Nama lain: Meranti Merah
Suku: Dipterocarpaceae

Latar Belakang
Tengkawang Tungkul adalah sejenis meranti yang bijinya dapat dipakai sebagai sumber penghasil minyak nabati. Bila dibandingkan dengan biji dari meranti lainnya, biji Tengkawang Tungkul mempunyai kadar minyak nabati paling tinggi. Tumbuhan ini sudah lama akrab dengan masyarakat Kalimantan Barat karena sejarah pemanfaatannya panjang.

Pemanfaatamya sudah berjalan turun temurun serta pembudidayaannya sudah dilakukan sejak lama, kira-kira tahun 1881. Buah Tengkawang Tungkul kering dieksport ke Singapura dan Jepang. Di negara ini biji dari buah tersebut diproses untuk diambil minyaknya serta digunakan untuk pengolahan makanan (coklat), kosmetika (dekoratif, sabun) dan lilin.

Pertelaan
Tlnggi pohon Tengkawang Tungkul dapat mencapai 30 m dengan garis tengah sekitar 60 cm. Batang tegak, lurus, tidak berbanir. Permukaan batang berwarna abu-abu serfa berbercak-bercak. Warna pepagan coklat muda. Tajuk lebat. Daun tunggal, tebal, kaku, besar, bulat panjang. Per-bungaan bentuk mulai terdapat di ujung ranting atau di ketiak daun. Buahnya bundar telur, berbulu tebal, bersayap 5 (3 sayap besar, 2 sayap kecil).

Ditinjau dari segi kayunya, Tengkawang Tungkul dikenal dengan sebutan Meranti Merah yang kayunya ringan dengan berat jenis 0,49, kelas kekuatan III dan kelas keawetan IV Pemanfaatan kayu ini umumnya untuk konstruksi ringan, yaitu kayu lapis, perabot rumah tangga (kursi, meja dan sebagainya), dinding rumah dan bahan kertas.

Ekologi
Tengkawang Tungkul/Meranti Merah yaitu pohon yang nampak tumbuh su bur di daerah hutan primer tanah rendah Kalimantan Barat dan Serawak. Di daerah tersebut tanahnya berpasir serta drainasenya kurang baik atau tumbuh juga di tanah aluvial.

Musim Berbunga
Penanaman Tengkawang Tungkul oleh rakyat di Kalimantan Barat dilakukan dengan biji dan setelah berumur 8/9 tahun baru nampak berbunga serta ber buah. Produksi buah bagus pada umur pohon sekitar 12 tahun lebih. Setelah 4 atau 5 tahun kemudian dari umur pohon 12 tahun/atau lebih dapat terjadi produksi buah secara maksimal yaitu dalam 1 hektar dapat mencapai 600 - 9.000 kg buah. Padahal setiap tahunnya hanya menghasilkan buah sekitar 50 - 200 kg saja dalam panen 1 hektar.
***
Sumber: Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional, KLH RI (http://bk.menlh.go.id)


Senin, 28 Maret 2011

Burung Nuri Raja: Dikenal dengan Bentuk Paruhnya yang Bengkok

(Amboinaking Parrot)
Nama lain: --
Suku: Psittacidae

Latar Belakang
Dilihat dari segi keadaan fauna burungnya, pilihan jenis ini untuk Maluku beralasan, karena untuk Indonesia, daerah Maluku adalah pusat keanekaragaman burung-burung berparuh bengkok.

Pertelaan
Panjang badan 35 cm. Seperti jenis-jenis nuri lainnya, Nuri Raja dikenal dengan bentuk paruhnya yang bengkok. Warnanya sangat mencolok, seperti jenis- jenis nuri lainnya, yang kebanyakan kombinasi merah dan hijau. Kepala dan leher Nuri Raja merah cerah, sayap serta bagian belakang tubuhnya hijau. Ekor nya hitam kebiru-biruan.

Habitat & Penyebaran
Nuri Raja hidup di hutan pamah sampai ketinggian 1.400 m di atas permukaan laut. Di alam, hidupnya bergerombol, menempati pepohonan yang tinggi, tidak jarang gerombolan burung ini membuat gaduh. Penyebarannya : Pulau Ambon, Pulau Seram dan wilayah Maluku Tengah lainnya serta wilayah Maluku Utara (Pulau Halmahera).

Makanan
Buah-buahan, biji-bijian, nektar, pucuk-pucuk tanaman.

Perkembangbiakan
Burung ini bersarang dalam lubang pohon yang besar dengan jumlah telur adalah 2 butir. Hanya burung betina yang mengerami telur. Lamanya penge raman telur adalah 19 hari, dan anak burung mulai bisa terbang pada umur 9 minggu setelah menetas. Ukuran telur rata-rata adalah 33,4 x 26,1 mm.
***
Sumber: Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional, KLH RI (http://bk.menlh.go.id)

Minggu, 27 Maret 2011

Aggrek Larat: Tumbuh dengan Baik di Daerah Panas

(Dendrobium phalaenopsis Fitzg.)
Nama lain: -
Suku: Orchidaceae

Latar Belakang
Jenis Anggrek yang sangat terkenal ini dibudidayakan pertama kalinya oleh Kaptein Broon field of Balmain di Queensland yang memperoleh tumbuhan tersebut dari dekat Cape Town di Semenanjung Cape York. Jenis ini didiskripsikan dalam Gardener's Chronicle pada tahun 1880. Asalnya dari Maluku, Irian Jaya sampai Queensland, Australia. Lama bunga mekar dapat mencapai 27 hari.

Warna bunga berkisar dari ungu pucat sampai ungu tua. Di alam, jarang dijumpai tanaman berbunga putih. Pertama kali ditemukan di Pulau Larat, Indonesia Bagian Timur, oleh karenanya dinamakan Anggrek Larat. Anggrek Larat demikian terkenalnya sehingga banyak silangannya dikenal dengan nama Larat saja. Adapun persilangan Dendrobium phalaenopsis (Anggrek Larat) sangat dikenal sebagai induk silangan yang telah dibuat orang. Hampir semua bunga potong Dendrobium adalah keturunan Dendrobium phalaenopsis dan sampai tahun 1993 telah dibuat lk. 241 silangan.

Salah satu silangan Anggrek Larat bernama Den drobium Indonesia (Dendrobium phalaenopsis X Dendrobium violaceoflarens). Semua jenis Anggrek ini daya tahannya lama. Pada Tahun 1857 telah dibawa orang ke Kebun Raya Kew Garden di London.

Pertelaan
Anggrek ini, Batang : berbentuk ganda, di pangkal kecil, di tengah membesar, ke ujung mengecil lagi. Daun : berbentuk lanset, ujung tidak simetris, panjang lk. 12 cm, lebar lk. 2 cm. Bunga : tersusun dalam rangkaian yang berbentuk tandan, yang tumbuh pada buku batangnya, agak menggantung, panjang lk. 60 cm; jumlah bunga tiap tandan 6 - 24 kuntum. Masing-masing bunga bergaris tengah lk. 6 cm.

Daun Kelopak : berbentuk lanset, berwarna keunguan. Daun Mahkota : lebih pendek, tetapi lebih lebar dari pada kelopaknya; pangkalnya sempit; ujungnya runcing dan berwarna keunguan. Bibir : bertajuk tiga tajuk nya membentuk corong; tajuk tengahnya lebar, runcing atau meruncing, ber warna keunguan. Buah : berbentuk jorong, panjang 3,2 cm; bunga jarang men jadi buah.

Ekologi
Tumbuh baik di daerah panas, pada ketinggian antara 0 - 150 m dpl. Di pulau Larat, tumbuhnya pada pohon-pohonan dan karang-karangan kapur yang cukup mendapat sinar matahari. Di pegunungan, tumbuhnya tidak begitu baik.

Musim Berbunga
Di Maluku, umumnya berbunga setelah musim hujan.
***
Sumber: Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional, KLH RI (http://bk.menlh.go.id)

Sabtu, 26 Maret 2011

Burung Cendrawasih 12 Kawat: Dijuluki Burung Dewata

(Seleucidis melanoleuca (Daudin))
Nama lain: Warju, Waygue
Suku: Paradisaeidae

Latar Belakang
Burung cendrawasih 12 kawat adalah bunmg yang sangat mempesona. Tidak heran kalau dijuluki burung dewata, burung yang seindah burung surga. Burung ini mempunyai nilai budaya yang tinggi, karena selalu digunakan dalam upacara-upacara adat.

Pertelaan
Burung ini mempunyai ciri yang khas yaitu berupa bulu panjang sebanyak 12 jumlahnya yang keluar dari punggungnya, panjangnya 30 cm. Bulu yang seper ti kawat ini berwama coklat keabu-abuan. Wamanya memang elok, satu pola dengan Cendrawasih Kuning besar atau Merah dengan sayap dan punggung berwarna coklat cerah. Akan tetapi rincian pola warna Cendrawasih 12 kawat nyata berbeda dengan jenis-jenis lainnya. Betina dan jantan berbeda pola warnanya. Yang jantan mempunyai bulu hias di lehernya yang dapat dimekarkan. Bulu ini berwarna hitam mengkilat ber lapis hijau dan pinggiran berwarna hijau mengkilat.

Bila dimekarkan, yaitu bila sedang mencumbu si betinanya, bulu ini akan menutupi sebagian ke-palanya. Bulu samping tebal menutupi juga perutnya, memanjang ke belakang, berwarna kuning emas. Yang betina berwarna coklat pada punggungnya dengan warna merah pada tepi sayap, sedangkan dadanya coklat berbintik. Karena keindahannya inilah kebanyakan burung dalam suku Paradisaeidae, terutama yang jantan, diburu untuk dijadikan binatang hias, baik dalam keadaan hidup maupun mati.

Habitat & Penyebaran
Habitatnya adalah hutan hujan dataran rendah dekat pesisir dan hutan sepan jang sungai-sungai di dataran rendah, terutama di hutan sagu dan pandanus. Pada umumnya hidup di dalam hutan pamah di Irian Jaya. Pada waktu tidak terbang, burung-burung ini bertengger pada dahan pepohonan. Penyebaran burung ini adalah di Salawati, Irian dan Papua New Guinea.

Makanan
Makanan terdiri dari serangga, larva serangga, buah-buahan, biji-bijian dan madu.

Perkembangbiakan
Sarangnya dibuat pada cabang-cabang pohon. Sarangnya berbentuk mangkuk yang dangkal, yang dibuat dari daun Pandanus, kulit kayu, dengan bagian dalamnya dilapisi akar-akar halus dan serat tumbuhan. Di dalamnya hanya terdapat sebutir telur berwarna krem berjalur-jalur warna sawo matang dan keabu-abuan. Telur berukuran 40,7 x 26,5 mm.
***
Sumber: Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional, KLH RI (http://bk.menlh.go.id)