PERHATIAN: Semua tulisan di laman / blog ini adalah hasil mengambil (copy) dari sumber-sumber yang layak dipertanggung jawabkan, baik media online maupun cetak, dengan harapan bisa digunakan untuk referensi dan tambahan ilmu yang bermanfaat. Terima kasih & harap maklum.

Kamis, 17 Maret 2011

Burung Perkutut: Punya Pancaran Kharisma Daya Magis

(Geopelia striata (Linnaeus))
Nama lain: Tekukur, Tekuker, Merbok
Suku: Columbidae

Latar Belakang
Bagi masyarakat jawa, khususnya Yogyakarta, Burung perkutut merupakan satwa yang sudah tidak asing lagi, karena burung ini sudah sangat lama dikenal di berbagai kalangan. Burung perkutut banyak dipelihara masyarakat dengan pertimbangan tertentu baik suaranya, bentuknya, rupanya sampai kepada daya magis yang dimilikinya. Bagi masyarakat yang percaya, memelihara perkutut tidak sekedar dinikmati suaranya tetapi mampu menimbulkan pengaruh ke pada pemeliharanya dalam kehidupan sehari-harinya.

Khususnya masyarakat Jawa terdapat ajaran "Hasta Brata yang salah satunya adalah kukilo atau bu rung dan dilambangkan dengan perkutut, karena dianggap memiliki nllai yang sangat luhur. Ajaran tersebut mengandung nasihat-nasihat dalam hidup rumah tangga yang biasanya diberikan pada pasangan atau pengantin yang baru me langsungkan pernikahan. Di dalam dunia kesenian Jawa khususnya karawitan, keindahan burung perkutut dituangkan dalam lagu "Kutut Manggung", yang artinya perkutut manggung atau bernyanyi serta sajak-sajak berbahasa Jawa yang bercerita tentang kebesaran perkutut.

Perkutut mempunyai pancaran kharisma yang mengandung daya magis. Pengaruhnya bagi pemelihara diper caya bisa membawa keberuntungan dan kesejahteraan rumah tangga.

Pertelaan
Burung perkutut termasuk kelompok burung penyanyi. Berukuran sekitar 20 - 25 cm, berwarna coklat dengan ekor panjang. Kepala berwarna abu-abu, leher dan bagian sisinya bergaris halus, punggung coklat dengan tepi-tepi bulu hitam. Bulu sisi terluar ekor kehitam-hitaman dengan ujung putih. Paruh ber warna abu-abu, sedangkan kaki berwarna merah jambu.

Habitat & Penyebaran
Burung perkutut pada umumnya hidup berpasangan, kadang-kadang berge rombol, menyukai tempat terbuka, kebun, tegalan, padang rumput dan halaman rumah yang dekat dengan hutan. Termasuk burung yang jinak karena mudah didekati sampai jarak relatif dekat. Burung ini banyak ditemukan di Semenanjung Malaya sampai Australia, Jawa, Bali dan daerah lain.

Makanan
Burung perkutut termasuk pemakan biji-bijian dan kadang-kadang juga serangga.

Perkembangbiakan
Perkembangbiakan antara bulan Januari sampai September. Di Pulau Jawa, perkutut liar berkembangbiak antara April sampai Juni yang ditandai dengan kegiatan membuat sarang pada pohon atau semak yang tidak terlalu tinggi. Sarangnya datar dan tipis terbuat dari kumpulan ranting. Pembuatan sarang dilakukan bersama-sama dengan pasangannya. Dalam satu tahun induk per kutut dapat bertelur sebanyak 2 butir. Telur berwarna putih dan berbentuk oval. Masa pengeraman berlangsung selama 2 minggu yang dilakukan ber ganti-ganti oleh tiap pasangannya (induk). Pada malam hari biasa dierami oleh induk betina. Anak burung yang baru menetas tidak berbulu dan matanya tertutup. Kepala lebih besar daripada badannya. Anak perkutut diasuh dan dipelihara oleh induknya sampai anak tersebut dapat mandiri, artinya telah dapat terbang dan mencari makanan sendiri tanpa bantuan induknya.

Perkutut termasuk golongan burung yang mudah dibudidayakan. Karenanya dalam perkembangbiakkannya, banyak dilakukan persilangan, karena per kutut banyak sekali mempunyai varietas. Usaha persilangan ini diharapkan akan mendapatkan bibit perkutut yang tangguh.
***
Sumber: Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional, KLH RI (http://bk.menlh.go.id)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar