PERHATIAN: Semua tulisan di laman / blog ini adalah hasil mengambil (copy) dari sumber-sumber yang layak dipertanggung jawabkan, baik media online maupun cetak, dengan harapan bisa digunakan untuk referensi dan tambahan ilmu yang bermanfaat. Terima kasih & harap maklum.

Senin, 14 Maret 2011

Kantil: Tinggi Pohonnya Bisa Mencapai 25 Meter

(Michelia alba DC)
Nama lain: Cempaka Putih, Campaka Puteh, Bunga Eja Kebo
Suku: Magnoliaceae

Latar Belakang
Bunga Kantil merupakan bunga yang mempunyai nilai tradisi bagi masyarakat Jawa, terutama di Jawa Tengah. Pemanfaatan Bunga Kantil pada upacara perkawinan (hiasan sanggul dan keris) dan pada upacara kematian dan tabur bunga (nyekar). Kantil dalam bahasa Jawa berarti menggantung seperti halnya bunga ini. Bunga Kantil mempunyai makna ritual yaitu 'kemantilkantil' artinya selalu ingat dimanapun berada atau tetap mempunyai hubungan yang erat walaupun alamnya sudah berbeda. Keadaan inilah yang menjadikan kebanggaan serta kecintaan masyarakat Jawa Tengah terhadap Bunga Kantil, sehingga Bunga Kantil banyak tertuang pada karya seni masyarakat Jawa Tengah dalam ukiran, lukisan, batik dan sebagainya.

Pertelaan
Tinggi pohon Kantil mencapai 25 m, bekas daun penumpu pada tangkai daun panjangnya lebih dari setengah tangkai daun. Bunga berdiri sendiri, berwarna putih, sangat harum bau nya. Perhiasan bunga panjangnya 3 - 5 cm yang terdalam lebih sempit dan lebih runcing dari pada yang ter luar. Pada dasar bunga yang berben tuk tiang, bakal buah dan benang sa ri jelas dipisahkan oleh suatu ruang.

Ekologi
Pohon Kantil dapat tumbuh sampai ketinggian 1.600 m dpl. Penyebaran tumbuhan ini dari Asia ttopika sam pai ke pulau-pulau di Pasifik.

Musim Berbunga
Berbunga sepanjang tahun. Hampir tidak pernah terbentuk buah dan biji.
***
Sumber: Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional, KLH RI (http://bk.menlh.go.id)

Minggu, 13 Maret 2011

Macan Tutul: Jenis Kucing Besar yang Masih Tersisa di Pulau Jawa

(Panthera pardus Linnaeus )
Nama lain: Macan Jawa, Macan Kumbang
Suku: Felidae

Latar Belakang
Macan Tutul atau dikenal Macan Jawa merupakan satu-satunya jenis kucing besar yang masih tersisa di Pulau Jawa. Di Jawa Barat terdapat dua jenis kucing besar, yaitu Harimau Jawa dan Macan Tutul. Namun keberadaan Harimau Jawa sampai saat ini belum banyak diketahui, bahkan sebagian ilmuan telah menganggapnya punah. Sedangkan Macan Tutul dengan semua tekanan yang ada sampai saat ini masih dapat bertahan hidup.

Sejak zaman dahulu Macan Tutul dikenal sangat cerdik, kemampuan istimewanya antara lain memiliki pendengaran dan penglihatan yang kuat serta tangguh dalam memanjat pohon. Dengan semua keistimewaannya ini tidak salah jika Provinsi Jawa Barat menggunakan hewan ini sebagai perlambang kekuatan, kecerdikan, kegagahan dan keindahan.

Pertelaan
Di Asia Tenggara Macan Tutul adalah karnivora terbesar kedua setelah Harimau.Berat rata-rata Macan Tutul jantan adalah 55 kg, dan macan betina 30 kg. Hal yang menarik dari Macan Tutul adalah memiliki dua pola warna, ada yang berwarna kuning dengan bintik-bintik hitam dan ada yang berwarna hitam (orang sering menyebutnya Macan Kumbang), yang diperhatikan diantaya pekatnya warna rambut Macan Kumbang akan terlihat bintik-bintik, mirip sekali dengan Macan Tutul kuning.

Macan Tutul pada umumnya memiliki rambut dengan warna yang bervariasi, mulai dengan kuning pucat hingga warna emas gelap dengan pola bintik-bintik hitam. Kepala, kaki bagian bawah dan bagian perut berbintik hitam pekat. Warna dan pola rambut tersebut sangat sesuai dengan habitat alaminya. Rambut anak Macan Tutul cenderung lebih panjang dan lebih tebal dibandingkan rambut Macan Tutul dewasa, warna rambunya abu-abu dengan bintik-bintik yang jarang.

Macan Tutul lebih banyak berburu di atas tanah, dan merupakanj pemburu yang handal dengan rata-rata daerah perburuan sekitar 11 – 37 km2, hewan ini akan menerkam mangsanya lalu menyeret kemudian mengangkatnyua ke atas dahan, meskipun seringkali mangsanya berukuran lebih besar daripada tubuhnya, contohnya Babi Hutan. Macan Tutul ini hidup soliter, persebarannya bergantung pada ketersediaan sumber makanan, hewan ini biasa melakukan penandaan wilayah kekuasaannya dengan mengeluarkan urine dan membuat cakaran pada pohon.

Habitat & Penyebaran
Kelebihan Macan Tutul dibanding kucing besar lain yang ada di dunia adalah mudah beradaptasi dan hampir dapat ditemukan pada seluruh tipe habitat. Di Indonesia, Macan Tutul hanya ditemukan di Pulau Jawa. Hewan ini tidak ditemukan di Sumatera, karena adanya kehadiran Harimau dan ke enam spesies lain dari family felidae. Macan Tutul juga tidak ditemukan di Pulau Kalimantan karena ketersediaan mangsa utama mereka.

Macan Tutul hidup di hutan-hutan yang masih alami atau padang rumput. Keberadaan macan tutul sangat dipengaruhi jumlah makanan dan kondisi alam untuk kamuflase dalam berburu atau melindungi diri.

Secara global, Macan Tutul tersebar di banyak wilayah yang meliputi wilayah Asia dan Afrika. Besarnya sebaran Macan Tutul ini menimbulkan variasi genetis dan morfologis pada tiap sub spesiesnya. Pada saat ini di provinsi Jawa Barat, Macan Tutul masih dapat dijumpai di beberapa kawasan :
1. Taman Nasional Gunung Halimun – Salak
2. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
3. Cagar Alam Leuweung Sancang
4. Gunung Patuha, Ciwidey
5. Cagar Alam Gunung Simpang, Cianjur
6. Cagar Alam Gunung Tilu, Cianjur
7. dan beberapa daerah lain yang tersebar di provinsi Jawa Barat

Makanan
Macan Tutul aktif di malam hari dan ada beberapa yang juga berburu pada siang hari, dapat memakan berbagai jenis binatang hutan mulai dari Babi Hutan, Kancil, Monyet burung, hewan pengerat sampai serangga.

Perkembangbiakan
Anak Macan Tutul lahir dengan jumlah 2-3 ekor, anak macan akan membuka matanya dalam waktu 10 hari setelah dilahirkan dan selama 3 bulan, anak Macan Tutul akan mengikuti induknya untuk berburu. Macan Tutul betina cenderung untuk memelihara anaknya, betina yang sedang hamil akan mencari gua, celah diantara batu, semak belukar, serta rongga pohon sebagai tempat untuk melahirkan dan merawat anaknya. 

Macan Tutul jantan juga ikut membantu pasangannya pada masa berkembangbiak salah satunya adalah dengan membawakan hasil buruan induk jantan untuk makanan anak dan induk betina.
***
Sumber: Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional, KLH RI (http://bk.menlh.go.id)

Sabtu, 12 Maret 2011

Gandaria: Buahnya Biasa Dipakai untuk Rujak Kanistren

(Bouea macrophylla Griff)
Nama lain: Ramania
Suku: Anacaroiaceae

Latar Belakang
Tanaman Gandaria merupakan tanaman ash Indonesia, masyarakat Jawa Barat, terutama yang bersuku Sunda, terkenal menyenangi sambal lalapan mentah nya. Termasuk dalam kelompok lalapan ini adalah buah Gandaria. Buah Gandaria muda diramu pula menjadi Rujak Kanistren yang dipakai dalam Upacara Tebus Wetengan pada saat wanita Sunda hamil 7 bulan. 

Nama Gandaria diperoleh dari warna kulit ari bijinya yang ungu kemerahan (Gandaria). Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang mantap, pemerin tah daerah Jaw a Barat menyatukan pilihan pada Gandaria untuk pengenalnya. Dari segi budaya, memang Gandaria lebih memasyarakat di jawa Barat, Kayu Gandaria dapat dipergunakan, dan buahnya dapat dibuat asinan.

Pertelaan
Pohon Gandaria tidak begitu tinggi, hanya setinggi pohon jambu bol. Ta juknya membulat, rimbun dan un taian daunnya berjuntai. Pohon ini lambat pertumbuhannya. Pohon yang berumur 4 tahun dari biji, ha nya mencapai tinggi 2 m, tapi tajuk nya rimbun. Bunga Gandaria ber bentuk hampir bulat.

Ekologi
Pohon Gandaria secara alami tum buh di hutan basah dan di bawah 300 m dari permukaan taut.

Musim Berbunga
Bunga Gandaria kecil. Karena tajuk nya yang rimbun dengan ukuran da un yang besar, maka bunga ini tidak begitu tampak. Bunga tersebut mun cul antara bulan Juli - November, dan buah dipanen pada bulan Maret - Juni.
***
Sumber: Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional, KLH RI (http://bk.menlh.go.id)

Jumat, 11 Maret 2011

Elang Bondol: Burung Tipe Penyebaran Kosnuopolit

(Haliastur indus (Boddaert))
Nama lain: Lang merah, Lang tembikar
Suku: Accipitridae

Latar Belakang
Apabila dilihat dari penyebarannVa, Elang Bondol bukan burung asli DKI Jakarta, akan tetapi keberadaannya di Jakarta tetap dipertahankan. Elang Bondol dikatagorikan mempunyai tipe penyebaran kosnuopolit, yaitu penyebarannya sangat luas pada beberapa daerah penyebaran regional, yakni meliputi seluruh daerah Nusantara. Pemanfaatan secara langsung Elang Bondol bagi manusia belum banyak terungkap.

Namun dari segi bioekonomis, Elang Bondol rnerupakan salah satu mata rantai bagi keseimbangan ekosistem kota Jakarta. Burung Elang Bondol selain penerbang dan penjelajah yang ulung juga gigih, ulet dan pantang me nyerah dalam memburu mangsa untuk kelangsungan hidup dan kelestarian jenis. Sifat ini melambangkan bahwa warga Jakarta sangat gigih, ulet dan cekat an di dalam bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan di dalam mem bangun kota Jakarta pada khususnva maupun Indonesia umumnya serta selalu dinamis, tangkas dan cepat dalam bertindak. Selain itu, bentuk dan warna tubuhnya sangat artistik clan menarik.

Pertelaan
Pada dasarnya keluarga Accipitridat, dapat dikelompokan ke dalam beberapa jenis menurut bentuk dan perilakunya seperti kelompok "Kites", "goshowks", "Short toed Eagle" dan "Horries". Adapun elang bondol dapat dimasukkan ke dalam kelompok "Eagle". 

Kelompok "Eagle" mempunyai ciri-ciri tubuh berukuran relatif besar yaitu sekitar 43- 50 cm panjangnya, mempunyai sikap yang gagah, sayap panjang clan lebar, kaki kuat, jari kaki dilengkapi cakar. Bentuk tubuh Elang Bondol sangat mudah dikenali yakni seperti burung Rajawali. Warna tubuhnya coklat kemerahan, kecuali bagian kepala dan lehemya berwarna putih.

Habitat & Penyebaran
Daerah pantai, sawah, daerah aliran air dan daerah berpaya. Penyebarannya meliputi India, Ceylon, Asia Tropis dan Cina Selatan sampai ke bagian Utara Australia.

Makanan
Elang Bondol bersifat karnivora (pemakan daging) yakni memangsa mamalia kecil, ikan, katak, ketam, ular, kadal clan sebagainya.

Perkembangbiakan
Sarang dibangun pada pohon yang tinggi atau kadang-kadang pada suatu bangunan. Sarangnya terbuat dari ranting-ranting kering clan daun-daun hijau, kertas clan tulang. Telumya berjumlah 1- 4 buah. Telurnya dierami oleh burung betina yang disuapi oleh si jantan pasangannya. Masa pengeraman sekitar 26 - 27 hari. Anak burung meninggalkan sarang setelah 50 - 55 hari.
***
Sumber: Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional, KLH RI (http://bk.menlh.go.id)

Kamis, 10 Maret 2011

Salak Condet: Buah Besar, Rasa Manis, Bijinya Agak Kecil

(Salacca zalacca) (Gaertner) Voss
Nama lain: Salak
Suku: Arecaceae

Latar Belakang
Tanaman Salak merupakan tanaman asli Indonesia, di Indonesia terdapat beberapa jenis salak dimana salah satunya adalah Salak Condet. Salak Condet dapat dibedakan menjadi 3 macam berdasarkan tempat dimana salak tersebut dibudidayakan yaitu Salak Condet Batu Ampar, Salak Condet Tanjung Barat dan Salak Condet Bale Kambang. Tanaman ini ditemui di Kebun Salak masyarakat Condet Jakarta Timur secara turun temurun. Salak Condet digemari orang karena rasanya manis, buahnya agak besar, bijinya agak kecil serta mempunyai aroma yang khas.

Pertelaan
Tanaman Salak berakar serabut, batang tanaman salak pendek dan hampir tidak kelihatan karena ruas-ruasnya padat dan tertutup oleh pelepah daun yang tertutup rapat. Daun berbentuk pita panjang yang tersusun pada pelepah panjang yang berawal pada pangkal pohon. Pelepah bersirip terputus putus dan panjang berkisar antara 2,5 - 7 m. Buah Salak menyerupai bentuk segitiga dengan pangkal meruncing dan ujung bulat, buah bergerombol dalam bentuk tandan, berwarna coklat tua, mengkilap dan bersirip teratur.

Ekologi
Salak merupakan tanaman dataran rendah dapat dikembangkan pada hampir semua jenis tanah, di daerah Condet tanaman salak tumbuh pada tanah Latosol merah kuning sampai coklat, pada ketinggian ± 7 m dpl. Menyukai sinar matahari cukup tetapi tidak langsung. Indentitas cahaya optimal 70%, dengan suhu harian rata-rata 20 - 30° C.

Musim Berbuah
Tanaman Salak akan berbuah sepanjang tahun, asalkan dibudidayakan secara baik. Tanaman Salak mulai berbuah setelah berumur 2 - 3 tahun jika berasal dari cangkokan, sedang yang berasal dari biji 4 - 5 tahun.
***
Sumber: Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional, KLH RI (http://bk.menlh.go.id)