PERHATIAN: Semua tulisan di laman / blog ini adalah hasil mengambil (copy) dari sumber-sumber yang layak dipertanggung jawabkan, baik media online maupun cetak, dengan harapan bisa digunakan untuk referensi dan tambahan ilmu yang bermanfaat. Terima kasih & harap maklum.

Jumat, 25 Maret 2011

Matoa: Pohon Penghasil Papan yang Cukup Baik untuk Bangunan

(Pometia pinnata j.R. & J.G. Forst.)
Nama lain: --
Suku: Sapindaceae

Latar Belakang
Meskipun Matoa juga dijumpai di tempat lain di Indonesia, di Irian Jaya jenis ini tidak hanya dikenal sebagai pohon berkayu tetapi terkenal sebagai pohon buah-buahan, bahkan dibudidayakan. Keragaman Buah Matoa juga dapat dijumpai di Irian Jaya.

Pertelaan
Pohon Matoa dapat mencapai tinggi 47 m, dengan garis tengah batang 140 cm, berbanir besar sampai 5,50 m tingginya. Daunnya bersirip dengan 3 - 13 pasang anak daun. Daun terbawah seringkali menyerupai stipula (daun pe numpu). Bagian-bagian yang muda kadang-kadang berbulu halus. Bunga jan tan dan betina. Buah berbentuk elips, ukurannya mencapai 3,5 X 3 cm, dengan berbagai warna kulit, mulai dari kuning, merah tua, ungu atau coklat. Daging buahnya tipis dan manis.

Ditempat lain tumbuhan ini lebih dikenai sebagai penghasil papan yang cukup baik untuk bangunan (jendela, pintu, lantai dan lain-lain) juga untuk peralatan pertanian dan peralatan olah raga serta bahan pembuat arang. Kulit kayunya juga dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional.

Ekologi
Tumbuhan ini dapat dijumpai di hutan primer maupun sekunder, sampai ke tinggian 1.700 m dpi. Tersebar mulai dari Sri Lanka dan Kepulauan Andaman, melalui Asia Tenggara sampai Fiji dan Samoa. Diperbanyak dengan biji maupun setek batang.

Musim Berbunga
Januari sampai Desember.
***
Sumber: Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional, KLH RI (http://bk.menlh.go.id)


Kamis, 24 Maret 2011

Komodo: Habitatnya Areal yang Tak Banyak Jenis Pohon yang Tumbuh Lebat

(Varanus komodoensis Ouwens)
Nama lain: Ora, Biawak raksasa
Suku: Varanidae

Latar Belakang
Biawak Komodo adalah jenis binatang purba yang sampai sekarang masih hidup di dunia clan merupakan satwa endemik. Satwa ini dilindungi ber dasarkan Ordonasi dan Perlindunggan Binatang Liar 1931 No. 134 dan 266..

Pertelaan
Biawak Komodo disebut juga biawak raksasa, karena termasuk jenis biawak yang paling besar. Panjang badannya sampai 3 meter dengan berat badannya mencapai 140 kg. Ekornya panjang, gemuk agak pipih, sedangkan kepalanya bermoncong tidak runcing. Lidahnya panjang, bercabang dua diujungnya dan berwarna kuning kemerailh-merahan. Pada keempat kakinya yang kuat terdapat kuku-kuku runcing. Seluruh tubuhnya berkulit keras, berwarna hitam keabu abuan.

Kulit binatang ini bercorak khusus, kecuali pada biawak yang muda, kulitnya berkembang-kembang berwarna hitam kekuning-kuningan. Ekor bi natang ini merupakan alat yang ampuh untuk merobohkan mangsanya dalam sekali serangan.

Habitat & Penyebaran
Habitat Komodo di Taman Nasional Komodo adalah areal yang tak banyak jenis pohon yang tumbuh lebat. Tujuh puluh persen dari Taman Nasional ini di tutupi oleh padang alang-alang dengan daerah savana disana-sini. Palem lontar menonjol di antara vegetasi yang ada dan merupakan jenis pohon yang paling khas di Taman Nasional Komodo. Satwa ini sering berkelana di pantai. Hidup mendiami lubang di daerah berbau cadas di tengah padang alang-alang yang kering iklimnya. Penyebarannya di Pulau Komodo, P Padar, P Rinca di sebelah Timur Sumbawa dan di pantai Barat Flores.

Makanan
Karena makanannya, binatang ini disebut pula binatang pemakan bangkai, kadang-kadang juga menyerang babi, rusa dan monyet. Daya penciuman bina tang ini sangat tajam sehingga dari jauh sudah mengetahui adanya bangkai. Penciumannya ini dibantu oleh syaraf di lidah yang selalu dijulur-julurkan keluar.

Perkembangbiakan
Komodo berkembangbiak dengan bertelur. Telurnya sebesar telur ayam, ber kulit agak lunak atau lembek dan warnanya keputih-putihan. Jumlah telurnya bisa lebih dari sepuluh butir yang diletakkan di celah batu atau rongga-rongga bawah tanah, sehingga kelembaban akan tetap terjaga. 

Telur komodo menetas setelah delapan bulan, dengan bantuan panas. Anak komodo menggunakan sebagian besar waktunya hidup di atas pohon; di situ mereka memakan serangga, telur burung dan binatang pengerat. Dengan hidup di atas pohon mereka akan terhindar dari serangan jantan dewasa yang biasanya memakan individu yang lebih kecil.
***
Sumber: Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional, KLH RI (http://bk.menlh.go.id)


Rabu, 23 Maret 2011

Cendana: Bisa Dimanfaatkan untuk Bahan Kosmetika

(Santalum album L.)
Nama lain: -
Suku: Santalaceae

Latar Belakang
Pohon Cendana tumbuh secara alami di Nusa Tenggara, oleh karena itu dipilih sebagai flora identitas Propinsi Nusa Tenggara Timur. Di samping itu nama pohon ini juga digunakan sebagai nama Universitas di Timor Timur dan pohon ini merupakan penghasil minyak bahan pewangi yang penting di Indonesia.

Pertelaan
Pohon berkayu ini dapat mencapai tinggi 15 m. Kulit batangnya kasar, berwarna coklat tua. Daunnya bundar telur, kecil (4 - H cm x 2 - 4 cm), tangkai daun 1 - 1,5 cm, kekuningan. Rangkaian bunga pendek (2 - 5 cm). Bunganya kecil, ber tangkai pendek (2 - 3 mm) mula-mula berwarna putih kecoklatan kemudian menjadi merah darah. Buahnya bulat berbiji satu, sebesar buah kepundung dan berwarna hitam jika telah masak. Kayunya berwarna putih kekuningan dan berbau harum jika kering, dimanfaatkan untuk bahan kosmetika.

Minyak Cendana juga digunakan sebagai obat gosok (dicampur dengan minyak ke lapa). Minyaknya mengandung santalol. Kayunya (yang dipelihara sampai berumur 20 - 40 tahun) dijadikan perhiasan, patung, kipas, kotak cerutu dan alat rumah tangga lainnya. Kayu muda tidak berteras dan tak berbau.

Ekologi
Jenis ini menyukai tanah bekas gu nung berapi, tanah liat, tanah ber batu, atau tanah kapur yang longgar di daerah kering. Hidup pada ke tinggian 1-1.200 m dpl. Daerah yang cocok ialah yang mempunyai suhu rata-rata minimum 20,4° C, maksi mum 34'C, serta kelembaban 65 %.

Tumbuh pada naungan ringan. Tum buhan ini berasal dari Asia Tenggara kemudian menyebar ke Australia, Kepulauan Pasifik dan Hawai. Tum buhan ini diperbanyak dengan biji atau tunas akar. Mempunyai sifat Hemiparasit, sehingga untuk tum buhnya diperlukan pohon inang di sekitarnya.

Musim Berbunga
Bulan Januari sampai Desember.
***
Sumber: Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional, KLH RI (http://bk.menlh.go.id)


Selasa, 22 Maret 2011

Rusa Timor: Berciri Khas Ekor yang Cukup Panjang

(Cervus timorensis Blainville)
Nama lain: Menjangan, Jonga, Nusa
Suku: Cervidae

Latar Belakang
Satwa liar ini dilindungi berdasarkan peraturan perlindungan Binatang Liar Tahun 1931 No. 134 dan 266. Sejak dahulu satwa ini sudah dimanfaatkan masya rakat untuk kebutuhan akan daging hewani, kulitnya dimanfaatkan untuk alat duduk/sebagai tikar, sedangkan tanduknya digunakan sebagai barang pajangan di rumah-rumah penduduk.

Pertelaan
Rusa ini mempunyai ukuran tubuh kecil, tungkai pendek, ekor cukup panjang, dahi cekung, gigi gerigi relatif besar, bulu warna gelap coklat kekuning-kuning an seperti warna pada punggungnya, tanduknya relatif besar ramping dan panjang, tanduknya mempunyai cabang yang runcing 6 buah atau 3 buah di masing-masing tanduk, cabang depan pertama mengarah ke depan, cabang belakang pertama dan hanya lebih panjang dari cabang depan kedua dan cabang belakang kedua kiri dan kanan sejajar.

Tanduk itu kasar, berkerut-kerut memanjang dari mulai pangkal sampai ke ujungnya. Tiap tahun, biasanya tan duk tersebut rontok. Rusa betina tidak memiliki tanduk bercabang.

Habitat & Penyebaran
Rusa suka tinggal di daerah-daerah yang terbuka dan kering, seperti di padang¬padang rumput atau di bukit-bukit dengan pohon-pohon/belukar yang tersebar. Rusa menggunakan hutan dengan pohon-pohonan yang cukup rapat seba gai tempat berlindung atau beristirahat. Biasanya rusa dapat ditemukan sampai ketinggian 2.600 m di atas permukaan laut. Penyebaran satwa ini hampir di seluruh kepulauan Indonesia kecuali Sumatera. Di Kalimantan dan Irian Jaya, rusa merupakan binatang pendatang (introduksi).

Makanan
Makanannya adalah rumput dan daun-daunan.

Perkembangbiakan
Musim kawin terjadi pada sekitar Juli dan September. Lamanya kehamilan rusa adalah sekitar 8 bulan, rata-rata anaknya lahir satu ekor. Anaknya disusui sampai umur 3-4 bulan, bahkan masih ada yang menyusu sampai umur 6-8 bulan. Pada umur kira-kira 7-9 bulan pada yang jantan mulai tumbuh tanduk nya dan kelihatan sempurna pada 6 bulan kemudian.
***
Sumber: Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional, KLH RI (http://bk.menlh.go.id)


Senin, 21 Maret 2011

Ajan Kelicung: Kualitas kayunya Sangat Baik

(Diospyros macrophylla Bl.)
Nama lain: Kacang, Kilang
Suku: Ebenaceae

Latar Belakang
Jenis ini dipilih sebagai flora identitas Propinsi Nusa Tenggara Barat karena pohon ini mempunyai arti ekonomi penting. Kualitas kayunya yang baik me nyebabkan banyak dicari dan populasinya di alam sangat menurun. Diharap kan dengan dipilihnya sebagai flora identitas propinsi akan mendapat perhatian lebih untuk dilestarikan.

Pertelaan
Pohon berkayu ini tingginya 10 - 46 m dengan garis tengah batang rata-rata 60 cm, bagian bebas cabang 9 - 30 m, dan kadang-kadang pada bagian bawahnya mempunyai akar papan yang tingginya dapat mencapai 1,50 m. Kulit luar batangnya berwarna coklat atau merah tua, sedangkan bagian tengahnya berwar na putih. Daunnya tunggal, berbentuk bulat memanjang atau jorong, berukuran 7 - 35 cm X 3,5 -19 cm.

Bunganya dalam rangkaian berwarna putih dan berbau harum. Buahnya agak bulat, berwar na kemerah-merahan dan berukuran 5 - 6,5 X 5 - 7,5 cm. Kayunya mempu nyai B.J. 0,60, tergolong dalam kelas kekuatan II - III. Kegunaan kayu ini selain sebagai bahan pembuat perabot rumah tangga juga untuk jembatan, bahan bangunan rumah, bagian bagian kapal, patung, ukiran, kerajinan tangan dan finir.

Ekologi
Pohon ini banyak dijumpai di tepi sungai, di tanah datar yang tidak tergenang air, tanah liat, tanah pasir maupun tanah berbatu dalam hutan asli. Tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya, pada ketinggian 5 - 800 m dpl. Per banyakan dapat dilakukan dengan bijinya.

Musim Berbunga
Bulan April sampai Oktober.
***
Sumber: Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional, KLH RI (http://bk.menlh.go.id)